Apr 9, 2011

Melepas dan terus melepas.

Masinis meniup peluit untuk yang ketiga kalinya. Wanita dengan sepasang sepatu berhak, lelaki tanpa jaket, dan aku, dua tas di kedua bahu.
Berlari mengejar pintu, berharap tidak ditutup.

Terengah-engah, aku masuk. Kereta ramai. Manusia berkulit putih. Kuning. Coklat. Hitam. Warna-warni tapi tidak bersama. Bagaimana?

Malas bergegas ke kompartemen pertama, aku duduk di bangku kosong terdekat. Di sebelah seorang wanita Belanda. Belum sampai satu menit aku sudah menjerit bosan. Kukirim tangan kiri, menggapai ke kantung jaket sebelah kiri, menekan tombol yang terlalu kuhafal. Suara Sondre mengisi kekosongan janggal ditengah kebingaran. Dentingan piano merasuk ke kedalam gendang telinga, menuju otak yang sedang tak henti bekerja. Berpikir tentang satu hal yang tidak ingin kupikirkan.
Namun menghantui.

Aku mendapati diriku menatap seorang wanita dengan syal hijau lumut.
Tak penting; aku butuh distraksi.
Jaket hitam tergeletak diatas tas besar miliknya. Dia pindahkan jaketnya, meraih resleting tas tersebut dan mengeluarkan baju warna kulit. lalu topi abu. Lalu baju bunga. Lalu mengembalikan semua ke dalam tasnya. Pandanganku beralih ke lantai. Sepatu hitam. Aku naikkan pandanganku, mendapati sepasang tangan yang kukenal, memegang sebuah ponsel yang juga kukenal. Tertutup kursi kosong namun tidak untuk rambut pirang kotor yang mencuat. Aku kenal.

Memandang nanar kursi tersebut, tahu dibaliknya adalah sesosok familiar yang baru saja kutemui tiga puluh menit yang lalu. Aku tak punya tenaga.

Aku biarkan.

Sepuluh menit.
Dia menghampir.
"Aku sedari tadi disana."

"Aku tahu."
Andai bisa berkata. Menjejak keluar mesin besi ini, tangannya melambai tanpa arah. Mencelos, aku lempar pandangan jauh-jauh. Birunya langit seakan menarik. Awan. Pohon. Bangunan. Rumah. Pagar. Detil-detil pemandangan yang tampak menguat, aku menerawang, mencoba mencari sesuatu dibaliknya.


Ini hanya lagu ketiga. Tapi terasa sudah lama. Mau apa, dunia terhenti barusan.

0 comments: